Item Name | : |
Upacara Bendera ala ‘Jadoel’ |
Category | : |
Artikel
|
Share to | : |
|
Contact Us | : | Call center 085 755 125 789 (Call/SMS) SMS officialadiwarna@gmail.com BB Messenger DD9A9C8D |
Deskripsi Lengkap Upacara Bendera ala ‘Jadoel’
Ada
banyak cara bagaimana masyarakat memperingati Hari Ulang Tahun Kemerdekaan
Republik Indonesia. Salah satunya yang terjadi di Dusun Mungkung Desa Wonorejo
Kec. Talun kab. Blitar Propinsi Jawa Timur ini.
Pada
hari Sabtu tanggal 17 Agustus 2013, tepat 68 tahun Kemerdekaan Republik
Indonesia. Masyarakat di Dusun Mungkung Ds. Wonorejo memperingatinya dengan
mengadakan Upacara Bendera ala ‘Jadoel’ (jaman doeloe). Masyarakat sangat
antusias dan khidmat dalam melaksanakan upacara kali ini.
Berbagai
generasi baik dari yang muda hingga tua ikut serta dalam upacara ini. Uniknya
para peserta memakai pakaian apa adanya yang menggambarkan periode sejarah
rakyat Indonesia sejak mulai zaman kerajaan, penjajahan, kemerdekaan hingga
modern saat ini. Kejadian menggelitik beberapa kali terjadi saat petugas
upacara melakukan kesalahan saat bertugas.
Upacara
bendera ini sengaja dilakukan untuk menghargai jasa para pahlawan dan memupuk
rasa nasionalisme para generasi muda. Inilah salah satu cara anak bangsa memperingati hari
kemerdekaan Indonesia, sesuai
pemaknaan terhadap kemerdekaan itu sendiri. Mereka melakukan semua kegiatan dalam
upacara bendera, mulai dari
inspektur upacara, menyanyikan lagu Indonesia Raya, mengheningkan cipta, dan
pembacaan detik proklamasi.
Meski
dilakukan secara sederhana namun para peserta tampak khidmat mengikuti upacara.
Karena tidak seperti pada umumnya, maka upacara itu terlihat cukup menggelikan. Terutama saat Komandan
Upacara dan Inspektur Upacara atau petugas lain yang beberapa kali melakukan
kesalahan.
Hal ini cukup dimaklumi, karena
aktifitas mereka sehari-hari mayoritas hanyalah petani, tukang becak dan buruh.
Sedangkan yang faham tentang upacara bendera hanya beberapa karyawan swasta.
Acara semakin meriah, setelah
upacara selesai, peserta upacara ramai-ramai menyantap nasi yang telah
disediakan. Apalagi sejak pagi mereka belum sarapan sehingga rasa lapar dan
lelah sangat dirasakan. Bahkan sempat ada salah seorang peserta yang jatuh
pingsan karena kelamaan berdiri dan juga belum makan pagi.
Agus Rambi salah seorang yang
ditunjuk sebagai pembina upacara ini mengatakan, pihaknya menggelar upacara
bendera secara tradisional karena ingin mengangkat kearifan lokal dengan
menjadikan upacara sebagai salah satu pusaka warisan leluhur yang perlu
dilestarikan.
"Jadi acara ini juga
dimaksudkan sebagai bentuk ungkapan rasa cinta kami terhadap NKRI,"
tuturnya, Sabtu (17/8/2013)
Berikut Dokumentasi kegiatan Upacara mereka :
Untuk Pembelian dalam jumlah Banyak, Silakan Kontak Customer Service Kami untuk mendapatkan harga terbaik
HOTLINE Hubungi Kami di Contact
PENGIRIMAN dengan Kurir Terpercaya
Related Product :